Kita semua pernah menghabiskan berjam-jam buat ngejar pixel perfection. Alignment yang exact. Grid yang flawless. Tapi pernah nggak sih bertanya: apakah kesempurnaan ini justru bikin desain kita jadi… boring? Terlalu steril? Bahkan mudah dilupakan?
Di 2025, sesuatu sedang berubah. Desainer mulai sadar bahwa dalam dunia yang semakin didominasi AI dan generator template, justru imperfeksi terprogram yang akan jadi pembeda.
Bukan Kesalahan, Tapi Keahlian
Jangan salah paham dulu. Imperfeksi terprogram ini bukan alasan buat jadi ceroboh. Bukan. Ini adalah ketidaksempurnaan yang disengaja. Diperhitungkan matang-matang. Seperti seniman yang sengaja meninggalkan goresan kuas yang kasat mata di lukisannya.
Contoh nyata? Lihatlah website studio musik indie yang sengaja menggunakan typography sedikit miring tidak beraturan. Atau aplikasi fintech yang sengaja memberi micro-interaction dengan timing yang sedikit “manusiawi” – tidak terlalu tepat seperti robot.
Atau brand skincare yang sengaja menggunakan ilustrasi tangan dengan garis yang tidak sempurna. Justru itu yang bikin kita ingat.
Kenapa Sekarang?
Karena kita jenuh. Survey terbaru menunjukkan 72% pengguna merasa brand dengan desain “terlalu sempurna” justru kurang relatable. Mereka sulit dipercaya. Seperti manusia tanpa kepribadian.
AI sudah bisa menghasilkan desain sempurna dalam hitungan detik. Tapi yang tidak bisa AI tiru? Karakter. Jiwa. Keunikan yang datang dari ketidaksempurnaan yang disengaja.
Kamu sendiri lebih percaya mana: website yang flawless banget kayak template, atau yang ada sentuhan “manusia” nya?
Tiga Contoh Imperfeksi Terprogram yang Berhasil
- Loading Animation yang “Breath” – Daripada progress bar yang linear sempurna, coba kasih sedikit variasi kecepatan. Seperti manusia yang mengambil napas. Hasilnya? Pengguna tidak merasa seperti sedang berinteraksi dengan mesin.
- Illustration dengan Garis Tidak Sempurna – Studio desain terkenal di Amsterdam sengaja mempertahankan goresan tangan yang sedikit bergetar dalam ilustrasi digital mereka. Hasilnya? Tingkat recall brand mereka naik 45% dalam 6 bulan.
- Microcopy yang Sedikit “Casual” – Daripada “Terima kasih telah melakukan pembelian”, coba “Yes! Pesanan kamu sudah diterima nih!” Rasanya seperti chatting dengan teman, bukan robot.
Jangan Sampai Salah Kaprah
Ini bukan tentang jadi tidak profesional. Bukan tentang mengabaikan prinsip desain dasar. Common mistakes yang sering gue lihat:
- Mengira “imperfeksi” berarti tidak usah memikirkan usability
- Terlalu berlebihan sampai bikin pengguna bingung
- Tidak konsisten dalam menerapkan ketidaksempurnaan ini
- Lupa bahwa imperfeksi harus punya tujuan, bukan asal-asalan
Gimana Mulai Menerapkannya?
Mulai kecil dulu. Jangan langsung overhaul semua sistem desain.
Coba tambahkan satu elemen “manusiawi” di project berikutnya. Mungkin button dengan corner radius yang sedikit variatif, bukan semua sama persis. Atau hover effect dengan easing curve yang tidak biasa.
Pertimbangkan konteks. Desain untuk aplikasi medis mungkin butuh lebih sedikit imperfeksi dibanding brand fashion muda.
Test respons pengguna. Apakah mereka lebih engaged? Lebih lama menggunakan aplikasi? Lebih mudah mengingat brand-mu?
Jadi, Apa Masa Depan Desain Kita?
Kita sedang bergerak menuju era dimana nilai desain tidak diukur dari kesempurnaannya, tapi dari kemampuannya menyentuh emosi. Dari authenticity-nya. Dari jiwa yang tertanam di dalamnya.
Imperfeksi terprogram bukan trend sesaat. Ini adalah respon alami terhadap dunia yang semakin digital dan sempurna secara artifisial. Ini adalah cara kita berkata: “Hey, di balik layar ini ada manusia yang memahami kamu.”
Desain yang sempurna mungkin akan mati. Tapi desain yang bermakna? Itu akan tetap hidup. Selama ada manusia yang menggunakan produk kita.
Sudah siap meninggalkan sedikit kesempurnaan untuk mendapatkan lebih banyak jiwa?