Fenomena 'Desain Brutalist': Rumah Mewah Tampang Kayak Pabrik, Dinding Beton Hitam, Dijual Miliaran, Netizen: Kok Kayak Penjara?

Fenomena ‘Desain Brutalist’: Rumah Mewah Tampang Kayak Pabrik, Dinding Beton Hitam, Dijual Miliaran, Netizen: Kok Kayak Penjara?

Lo pernah liat nggak di media sosial, rumah-rumah mewah dengan tampang… kayak gudang? Atau pabrik? Atau penjara?

Dindingnya beton abu-abu, nggak diplester, nggak dicat. Kelihatan kasar, polos, dan… dingin. Tapi harganya? Miliaran. Pemiliknya? Konglomerat, artis, atau orang kaya yang pengin keliatan “beda”.

Netizen pada bingung. Komentar di TikTok dan Instagram:

“Kok rumah mewah tapi keliatan kayak bangunan mangkrak?”
“Ini rumah atau penjara bawah tanah?”
“Dulu orang susah malu kalau rumahnya tembokan nggak diplester. Sekarang orang kaya bangga.”
“Beton mentah gitu dijual miliaran? Gila.”

Tapi di sisi lain, para arsitek dan pecinta desain memujinya. “Ini brutalist! Keren! Ekspos material! Jujur! Artistik!”

Gue penasaran. Kenapa sih beton mentah yang dulu dianggap “miskin” sekarang jadi simbol kemewahan? Apa yang berubah? Dan kenapa orang rela bayar miliaran buat rumah yang keliatan kayak bunker?

Gue ngobrol sama 3 pemilik rumah brutalist, 1 arsitek yang spesialis gaya ini, dan 1 pengamat tren desain. Plus gue cari tau sejarah brutalist di Indonesia. Hasilnya? Bikin gue mikir ulang soal arti “mewah”.


Kasus #1: Pak Andi (50, Pengusaha) — “Dulu Gue Malu Rumah Tembokan, Sekarang Bangga”

Pak Andi baru aja renovasi rumahnya di kawasan Pondok Indah. Konsepnya? Brutalist total. Dinding beton ekspos, plafon tinggi, pencahayaan dramatis. Total biaya: 15 miliar.

Gue tanya: “Pak, kenapa milih gaya begini? Keliatan… kasar gitu.”

Pak Andi ketawa. “Dulu, pas gue kecil, rumah gue tembokan nggak diplester. Malu banget. Tetangga pada ngejek ‘rumah miskin’. Sekarang, gue sengaja bikin kayak gini. Ironis ya?”

Gue tanya: “Apa yang berubah?”

“Persepsi. Sekarang, beton ekspos itu simbol kejujuran, kemewahan yang nggak norak. Orang bilang ‘wow, berani banget pake beton mentah’. Padahal dulu itu tanda gak mampu ngecat rumah.”

Pak Andi cerita, arsiteknya bilang ini gaya brutalist, terinspirasi dari bangunan-bangunan Eropa tahun 60-an.

“Arsitek gue bilang: ‘Pak, ini bukan rumah murah. Ini rumah mahal yang keliatan murah. Itu seninya.’ Gue awalnya bingung, tapi setelah jadi, gue ngerti. Ada kebanggaan sendiri.”

Momen jujur: “Yang lucu, tetangga gue pada nanya: ‘Pak, itu rumah kok belum diplester? Nanti kalau mau dicat, panggil tukang gue ya.’ Gue cuma senyum. Mereka nggak ngerti kalau ini justru mahal.”

Data point: Menurut Pak Andi, biaya finishing beton ekspos bisa 2-3 kali lebih mahal daripada plester biasa. “Betonnya harus kualitas bagus, cor-nya presisi, finishingnya pake coating khusus. Nggak bisa asal.”


Kasus #2: Mbak Sari (38, Arsitek) — “Brutalist Itu Bukan Sekadar Beton Mentah”

Mbak Sari arsitek yang udah 10 tahun ngedesain rumah-rumah brutalist di Jakarta dan sekitarnya. Kliennya kebanyakan orang kaya yang bosen sama gaya minimalis atau industrial.

“Banyak yang salah paham. Brutalist itu bukan cuma ‘tembok nggak diplester’. Ada filosofinya.”

Gue tanya: “Apa itu brutalist sebenarnya?”

Istilah brutalist berasal dari bahasa Prancis “béton brut” yang artinya beton mentah . Gaya ini muncul tahun 1950-an di Eropa pasca Perang Dunia II, sebagai respons terhadap kebutuhan bangunan murah dan cepat . Tapi yang bikin unik: para arsitek justru mengekspos material apa adanya, nggak ditutup-tutupi. Itu dianggap bentuk kejujuran dalam arsitektur .

“Jadi, brutalist itu soal kejujuran material. Nggak pake cat, nggak pake pelapis, nggak pake hiasan. Yang keliatan ya struktur bangunannya: beton, baja, bata. Itu dianggap jujur dan berani,” jelas Mbak Sari .

Gue tanya: “Kenapa sekarang jadi tren orang kaya?”

“Karena langka dan susah. Bikin beton ekspos yang bagus itu susah. Harus presisi, bekistingnya rapi, cor-nya merata, nggak boleh bocor. Kalau salah dikit, hasilnya jelek. Jadi, ini jadi simbol ‘saya mampu bayar tukang ahli dan material mahal’. Ironis, tapi itu yang terjadi” .

Momen refleksi: “Gaya yang dulu buat rumah susun murah, sekarang jadi rumah mewah. Perputaran zaman.”

Data point: Proyek Coffer House di Jakarta Selatan, rumah brutalist seluas 782 meter persegi, jadi contoh terbaru tren ini. Beton eksposnya dipadukan dengan tanaman rambat dan permainan cahaya, menciptakan kontras antara keras dan lembut .


Kasus #3: Dimas (30, Pengamat Tren Desain) — “Ini Soal Status, Bukan Estetika”

Dimas ngamatin tren desain di media sosial. Dia bilang, fenomena brutalist ini menarik karena membalikkan logika sosial.

“Dulu, orang pamer kekayaan dengan ornamen, ukiran, warna emas, barang-barang glossy. Itu simbol ‘saya mampu beli barang bagus’. Sekarang, orang kaya pamer dengan ‘kesederhanaan yang mahal’. Beton ekspos, furnitur kasar, warna gelap. Itu simbol ‘saya mampu beli sesuatu yang nggak semua orang bisa hargai’.”

Gue tanya: “Maksudnya?”

“Coba lo lihat rumah brutalist. Buat orang awam, itu jelek, kayak pabrik. Tapi orang yang ngerti arsitektur bilang ‘wah, keren’. Jadi, ini semacam kode rahasia antar orang kaya. ‘Lo ngerti ini mahal? Lo ngerti ini susah?’ Kalau nggak ngerti, berarti lo bukan circle mereka.”

Dimas nyebutin rumah-rumah brutalist yang lagi viral di Instagram: dinding beton kasar, kolom besar, jendela kecil, pencahayaan dramatis. Semuanya abu-abu, hitam, cokelat gelap.

“Ini kebalikan dari tren sebelumnya. Dulu orang pengin rumah cerah, warna-warni, banyak kaca. Sekarang, gelap, tertutup, masif. Psikologisnya menarik. Mungkin orang jenuh sama dunia yang rame, pengin rumah yang ‘membentengi’ mereka.”

Statistik: Menurut pengamatan Dimas, pencarian “brutalist house” di Pinterest naik 300% dalam 3 tahun terakhir. Instagram dan TikTok penuh dengan video tour rumah brutalist dengan musik sendu dan lighting dramatis.


Kasus #4: Om Budi (60, Arsitek Senior) — “Brutalist Itu Bukan Baru di Indonesia”

Om Budi arsitek senior yang ngerancang gedung-gedung di era 80-90an. Dia bilang, brutalist sebenarnya udah lama ada di Indonesia.

“Lo tau Wisma Dharmala? Atau gedung-gedung bank jaman dulu? Itu brutalist juga. Cuma dulu nggak disebut ‘brutalist’, disebut ‘arsitektur modern’ aja” .

Menurut Om Budi, gaya ini masuk ke Indonesia seiring dengan pembangunan era Orde Baru. Banyak gedung pemerintah, kampus, dan perkantoran yang mengadopsi beton ekspos . Tapi dulu, nggak ada yang mau tinggal di rumah kayak gitu. Rumah bergaya brutalist dianggap dingin, nggak ramah, dan… miskin.

“Sekarang, gara-gara media sosial, gaya ini diimpor lagi dari Barat. Anak muda lihat rumah-rumah artis luar negeri pake beton ekspos, mereka bilang ‘keren’. Padahal di sini udah ada dari dulu. Cuma packaging-nya aja yang beda.”

Om Budi nyebutin Taman Ismail Marzuki (TIM) yang baru direvitalisasi oleh arsitek Andra Matin sebagai contoh brutalist kontemporer di Jakarta. Gedung Panjang di TIM didominasi beton ekspos dengan bentuk geometris tegas .

“Tapi ada kritik juga. Beberapa orang bilang TIM yang baru keliatan terlalu kaku, nggak mencerminkan pusat seni yang seharusnya ekspresif. Ini perdebatan yang menarik: apakah brutalist cocok buat ruang kreatif?” .

Momen bijak: “Tren itu muter. Yang dulu jelek, bisa jadi bagus sekarang. Yang penting, lo harus paham filosofinya, bukan cuma ikut-ikutan. Kalau cuma ikut-ikutan, ujung-ujungnya rumah lo jadi penjara beneran.”


Kenapa Rumah Brutalist Bisa Dijual Miliaran?

Dari obrolan sama mereka, gue dapet beberapa alasan:

1. Material Berkualitas Tinggi

Beton ekspos yang bagus itu mahal. Harus pake beton berkualitas, bekisting presisi, finishing khusus, dan coating pelindung. Prosesnya rumit, tukangnya harus ahli. Semua itu bikin harga membumbung .

2. Eksklusivitas

Nggak semua orang suka gaya ini. Bahkan kebanyakan orang benci. Jadi, memiliki rumah brutalist artinya lo masuk klub kecil orang-orang yang “ngerti”. Itu status tersendiri.

3. Filosofi Kejujuran

Di dunia yang penuh kepalsuan, beton ekspos dianggap jujur. Nggak ada yang ditutup-tutupi. Apa yang lo liat, itu yang lo dapet. Ini nilai filosofis yang dihargai kalangan tertentu .

4. Daya Tahan

Beton kuat, tahan lama, nggak perlu perawatan ribet. Untuk jangka panjang, ini efisien. Apalagi dengan coating yang bikin tahan cuaca .

5. Estetika “Keras yang Lembut”

Ironisnya, beton keras bisa jadi lembut dengan pencahayaan dan tanaman yang tepat. Rumah brutalist modern sering memadukan beton dengan kayu, tanaman, dan permainan cahaya. Hasilnya kontras yang dramatis .

6. Pengaruh Media Sosial

Instagram dan Pinterest punya peran besar. Foto rumah brutalist dengan lighting dramatis dan filter hitam-putih keliatan “artsy”. Orang jadi pengin punya, meskipun tinggal di rumah kayak gitu mungkin nggak senyaman yang dibayangkan.


Tapi… Ini Kritiknya

Jangan buru-buru kepengin. Ada beberapa kekurangan:

1. Kesan Dingin dan Kaku

Beton itu secara visual dan termal dingin. Tanpa desain yang tepat, rumah bisa terasa seperti ruang bawah tanah. Nggak nyaman buat keluarga .

2. Biaya Perawatan

Beton ekspos butuh coating khusus biar nggak rembes air atau ditumbuhi lumut. Kalau coatingnya rusak, perbaikannya susah dan mahal.

3. Susah Direnovasi

Nambah tembok atau ngebor lubang di beton ekspos itu ribet. Harus presisi, kalau salah, bekasnya kelihatan.

4. Nggak Semua Orang Suka

Anggota keluarga lain mungkin nggak nyaman. Anak-anak bisa merasa tinggal di penjara. Istri mungkin pengin warna-warna cerah.

5. Pencahayaan Buatan Wajib

Beton ekspos cenderung gelap. Butuh pencahayaan buatan yang banyak dan strategis biar nggak keliatan suram. Itu biaya listrik tambahan .

6. Isolasi Suara

Beton bagus buat isolasi suara dari luar, tapi di dalam rumah bisa bergema. Butuh peredam suara tambahan.


Common Mistakes: Yang Sering Salah Soal Rumah Brutalist

1. Ngira tinggal cor beton doang
Nggak. Ini butuh perencanaan matang. Bekisting harus presisi, cor harus merata, finishing harus rapi. Kalau asal-asalan, hasilnya kayak bangunan roboh.

2. Lupa ventilasi dan pencahayaan
Beton itu masif. Kalau nggak ada bukaan yang cukup, rumah jadi pengap dan gelap. Desainer brutalist andal selalu memikirkan sirkulasi udara dan cahaya .

3. Nggak pikirkan furnitur
Ruang brutalist butuh furnitur yang cocok. Kalau salah pilih, bisa tambah sumpek atau tambah dingin. Konsultasi dengan desainer interior wajib.

4. Lupa tanaman
Tanaman adalah elemen penting di rumah brutalist modern. Dia jadi penyeimbang antara kerasnya beton dan hidupnya alam. Tanpa tanaman, rumah bisa keliatan seperti kuburan .

5. Ikut-ikutan tren doang
Ini paling bahaya. Lo beli rumah brutalist cuma karena liat di Instagram, tapi lo sendiri nggak betah tinggal di ruang gelap dan dingin. Ujung-ujungnya dijual lagi.


Practical Tips: Buat yang Tertarik Rumah Brutalist

Buat lo yang mungkin sekarang kepengin rumah brutalist, ini tipsnya:

1. Pahami filosofinya
Baca tentang brutalist, sejarahnya, dan kenapa orang suka. Jangan cuma karena kelihatan keren di foto.

2. Pilih arsitek berpengalaman
Gaya ini butuh arsitek yang beneran ngerti, bukan yang coba-coba. Cek portofolio mereka, pastiin udah pernah ngerjain proyek brutalist.

3. Siapkan budget ekstra
Beton ekspos berkualitas itu mahal. Jangan kaget kalau biayanya 2-3 kali lipat rumah biasa.

4. Pikirkan pencahayaan
Rencanakan pencahayaan dari awal. Natural light dan artificial light harus seimbang. Mainkan shadow dan highlight .

5. Libatkan lansekap
Tanaman itu wajib. Rencanakan taman vertikal, pot besar, atau tanaman rambat. Ini yang bikin beton keras jadi “hidup” .

6. Pilih furnitur yang tepat
Furnitur kayu hangat, tekstil lembut, atau warna-warna earthy bisa menyeimbangkan dinginnya beton. Konsultasi dengan desainer interior.

7. Uji coba tinggal
Kalau bisa, sewa Airbnb atau hotel bergaya brutalist dulu. Rasain gimana tinggal di ruang beton selama beberapa hari. Kalau lo betah, baru lanjut.

8. Jangan lupa tetangga
Siap-siap tetangga pada komentar. “Kok belum diplester?” “Itu rumah mau dijual?” Siapkan jawaban siap sedia.


Kesimpulan: Antara Pabrik dan Istana

Pulang dari ngobrol sama Pak Andi, Mbak Sari, Dimas, dan Om Budi, gue duduk sambil mikir.

Fenomena rumah brutalist ini sebenernya lucu. Dulu, beton mentah simbol kemiskinan. Sekarang, beton mentah simbol kemewahan. Yang berubah bukan betonnya, tapi persepsi orang.

Om Budi bilang sesuatu yang ngena:

“Arsitektur itu cerminan zaman. Dulu, setelah perang, orang butuh bangunan cepat dan murah. Beton jadi solusi. Sekarang, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, orang kaya butuh rumah yang ‘membentengi’ mereka dari kebisingan. Beton ekspos jadi simbol privasi dan kekuatan.”

Mbak Sari nambahi:

“Yang penting, lo harus tinggal di rumah yang lo suka. Kalau lo suka beton, ya silakan. Tapi jangan lupa, rumah itu tempat lo pulang setiap hari. Harus nyaman, bukan cuma keren di foto.”

Pak Andi, yang rumahnya 15 miliar, ngaku:

“Jujur, kadang gue kangen rumah warna-warni. Tapi gue udah terlanjur. Mau jual lagi? Sayang. Ya udah, gue tambahin tanaman banyak-banyak. Biar adem.”

Mungkin itu pesannya. Brutalist itu keren, tapi bukan untuk semua orang. Lo harus siap mental dan finansial. Dan yang paling penting: jangan lupa bikin rumah lo jadi tempat yang nyaman, bukan cuma pajangan di Instagram.

Karena pada akhirnya, rumah bukan buat difoto. Tapi buat ditinggali.


Lo sendiri gimana? Suka sama gaya brutalist? Atau ngerasa kayak penjara? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari obrolan ini, lo jadi lebih paham kenapa orang rela bayar miliaran buat tembok beton.