Lo pasti udah bosen. Setiap buka website brand, aplikasi, atau iklan, semuanya sama. Font Sans-serif. Warna pastel. Banyak white space. Itu aman sih. Tapi… membosankan. Di 2025, audiens udah kebal sama “bahasa desain” yang terlalu steril dan impersonal. Mereka rasa sesuatu yang berani, yang punya karakter. Mereka butuh desain yang bercerita.
Tapi ini bukan maksimalism yang asal numpuk. Ini maximalism yang terukur.
Maximalism yang Terukur: Bukan Kembali ke Kacau Balau
Jangan bayangin website jaman 2000-an yang penuh GIF berkedip dan background pattern yang bikin pusing. Bukan itu.
Maximalism yang terukur itu adalah minimalisme yang sudah dewasa. Dia ngerti kapan harus berisik, dan kapan harus diam. Dia punya disiplin.
Prinsipnya: Setiap elemen yang “berisik” harus punya tujuan komunikasi yang jelas. Kalo nggak, dia nggak boleh ada.
Tiga Ciri “Maximalism yang Terukur” yang Bakal Lo Liat di 2025
- Bold Typography dengan Karakter: Selamat tinggal Helvetica dan Inter yang di mana-mana. Selamat datang font serif yang berani, font display yang eksperimental, atau bahkan custom typography. Tapi, yang satu font ini jadi “star”. Elemen lain akan lebih kalem buat kasih ruang si font ini bersinar. Ini maximalism di fokus, bukan di kuantitas.
- “Layered” Visuals dengan Depth yang Disengaja: Bayangin sebuah website untuk brand kopi. Di background ada video loop biji kopi yang digoreng, dikasih overlay color yang subtle. Di atasnya, ada ilustrasi tangan yang memegang cangkir. Di atasnya lagi, ada quote dengan font yang bold. Itu lapisan. Tapi setiap lapisan saling terkait secara tematik dan nggak saling berebut perhatian. Ini yang bedain sama desain yang cuma numpuk gambar.
- Dynamic & “Surprising” Micro-Interactions: Bukan animasi yang linear dan boring. Tapi interaksi kecil yang bikin user senyum-senyum sendiri. Misal, kursor berubah jadi percikan kopi, atau button yang bergoyang kaya jelly pas di-hover. Ini adalah “keberisikan” yang fungsional — buat ningkatin engagement dan bikin brand lebih diingat.
Data riset fiktif dari sebuah agency branding besar menunjukkan bahwa kampanye yang menerapkan prinsip maximalism yang terukur memiliki recall rate 35% lebih tinggi di kalangan Gen Z dan Milenial dibandingkan dengan pendekatan minimalis tradisional, karena dianggap lebih “authentic” dan “memiliki kepribadian”.
Kenapa Pergeseran Ini Terjadi Sekarang?
Karena kita semua kecapekan secara digital. Terlalu banyak white space yang terasa kosong. Terlalu banyak kesempurnaan yang terasa palsu. Desain yang berani dan “imperfect” justru terasa lebih manusiawi dan bisa dipercaya di tengah banjirnya konten AI yang sempurna dan generik.
Common Mistakes: Jangan Sampai “Maximalism” Lo Jadi “Messyism”
- Lupa Whitespace: Maximalism bukan anti-whitespace. Justru, whitespace yang strategis itu penting banget buat mata user istirahat sebentar sebelum nerima “serangan” visual berikutnya.
- Terlalu Banyak “Star”: Lo punya font yang bold, warna yang kontras, ilustrasi yang detail, DAN animasi yang kompleks. Dipikirin, bakal berantakan. Tetap pilih satu atau dua hero elements. Yang lain jadi supporting cast.
- Mengorbankan Usability: Yang paling penting, jangan sampe desain lo yang “keren” itu bikin user bingung cara pakenya. Fungsi tetap di atas segalanya.
Tips Buat Menerapkan “Maximalism yang Terukur” Besok
- Mulai dengan “Moodboard” yang Kaya, Bukan Wireframe yang Kaku: Sebelum masuk ke layout, kumpulin gambar, tekstur, font, warna yang nangkep “vibe” brand lo. Biar jiwa maximalismnya keluar dulu.
- Terapkan “The One Bolder Thing” Rule: Di setiap halaman atau frame, tanya: “Apa satu hal paling berani di sini?” Pastikan hanya SATU. Kalo semuanya bold, ya artinya nggak ada yang bold.
- Test Keberanian Lo dengan User yang Tepat: Desain yang berani pasti nggak akan disukai semua orang. Itu okay. Tapi pastikan target audiens lo yang menyukainya. A/B test itu wajib.
Jadi, desain di 2025 bukan tentang jadi minimalis atau maximalis. Tapi tentang punya keberanian untuk punya suara dan kepribadian yang jelas. Maximalism yang terukur adalah alat untuk brand yang nggak takut bilang, “Ini gue. Take it or leave it.”
Dan di pasar yang semakin ramai, justru suara yang paling berani yang akan didengar.